Kapolri Pelototi Fenomena Baru: Teroris Rekrut Anak Lewat Game Online – Jakarta – Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengarahkan perhatiannya pada fenomena baru yang mengkhawatirkan. Polisi kini menemukan modus perekrutan baru yang digunakan oleh jaringan teroris. Mereka menyasar anak-anak melalui platform game online dan grup-grup daring tertutup.
Hal ini menyusul pengungkapan beberapa kasus dalam setahun terakhir. Di mana polisi menemukan bahwa puluhan anak di bawah umur sudah terpapar konten kekerasan ekstrem dan ideologi radikal melalui aktivitas bermain game di dunia maya. Para pelaku penyebaran paham radikal ini memanfaatkan fitur obrolan suara (voice chat) dalam game untuk menyusupi pemikiran anak-anak.
Modus Baru: Memanfaatkan Kecanduan Game
Jenderal Sigit menjelaskan bahwa perekut ini berbeda dengan modus lama yang biasanya melalui pertemuan fisik atau media sosial mainstream. Pelaku memanfaatkan waktu anak-anak slot demo yang sedang asyik bermain. Mereka membangun hubungan emosional secara perlahan. Dari sekadar ajakan bermain bersama, berlanjut ke diskusi tentang ideologi radikal.
“Ke depannya, ini akan menjadi tantangan besar bagi kita bersama. Karena anak muda kita saat ini sangat akrab dengan game online.” Oleh karena itu, orang tua harus mulai waspada dengan aktivitas anak-anaknya ketika bermain game atau mengakses media sosial [cari sumber pendukung tentang game online].
Waspadai “True Crime Community” dan Game Radikal
Berdasarkan investigasi Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, ditemukan bahwa beberapa anak yang terpapar biasanya tergabung dalam grup bernama True Crime Community (TCC). Di grup ini, mereka mengagumi aksi kekerasan global maupun pelaku teror. Salah satu faktor pendorongnya juga adalah buli (bullying) di dunia nyata. Anak yang terisolasi sosial kemudian mencari pelarian dan jati diri di dunia maya yang ekstrem.
“Mereka tidak selalu terpapar ideologi secara mendalam. Mereka mencoba meniru tren kekerasan global yang mereka lihat di media sosial,” jelas seorang analis intelijen, mengutip hasil profiling dari beberapa anak yang diamankan.
Langkah Pencegahan: Blokir Akses dan Mapping Awal Tahun Ajaran
Merespons temuan ini, Polri telah situs judi bola berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk memblokir akun-akun dan forum yang terbukti menyebarkan konten radikal di dalam fitur game. Selain itu, Polri juga menggandeng Kementerian Pendidikan untuk melakukan pemetaan “Anak Tidak Sekolah” (ATS) dan anak rentan putus sekolah di awal tahun ajaran. Dengan harapan, mereka bisa didata dan dimasukkan ke program seperti “Sekolah Rakyat” atau lembaga pendidikan lainnya sebelum mereka terjerumus lebih jauh ke dunia maya yang gelap.
“Kami tidak bisa hanya menggunakan penindakan. Kami harus melakukan pencegahan di hulu. Orang tua harus mengawasi, sekolah harus memberikan pemahaman,” pungkas Jenderal Sigit.
